Tampilkan postingan dengan label Yesus Vegetarian?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus Vegetarian?. Tampilkan semua postingan

MEMBUNUH UNTUK MAKANAN ADALAH HAL YANG ALAMI. BINATANG SALING MEMBUNUH DI ALAM BEBAS. MENGAPA KITA TIDAK?


Kita tidak menjadikan binatang sebagai pedoman moral kita dalam kehidupan.

Misalnya, beberapa binatang dapat berkelahi sampai mati untuk memperebutkan pasangannya, atau bahkan memakan anaknya. Hal-hal ‘alami’ seperti ini bukan alasan bagi kita untuk men-sah-kan perkosaan, pembunuhan, atau infantisida (pembunuhan bayi).

Bukankah manusia ‘dianggap’ makhluk yang LEBIH MULIA dari binatang dikarena manusia memiliki AKAL BUDI dan PIKIRAN?


Namun kenyataan tetap tidak berubah: Industri peternakan dan rumah jagal adalah tempat yang kejam dan penuh darah. Kita semua mengerti bahwa mencelakakan anjing atau kucing adalah perbuatan tidak bermoral…

Demikian pula sama tak bermoralnya MEMBAYAR orang lain untuk MEMBUNUH ayam, sapi, babi, kalkun, atau binatang apa pun demi memuaskan lidah kita.

BAGAIMANA UMAT KRISTIANI BISA MENYUARAKAN VEGATARIAN JIKA MEREKA TIDAK PERCAYA BAHWA YESUS ADALAH VEGETARIAN?


DI dalam Is God a Vegetarian ( Open Court, 1998), Dr. Richard Alan Young, Guru besar Seminari Tample Baptist di Tennessee, dan Pdt. Andrew Linsey, penulis banyak buku tentang hak-hak binatang dan Kristen (seperti Animal Theology) berargumen, bahwa umat Kristen seharusnya hidup menurut kehendak Tuhan uang dikehendaki tidak adanya kekejaman di bumi, yang mencakup cinta kasih kepada binatang. Argumen ini berpusat pada konsep eskatologi (eschatology). Eschaton berarti “akhir masa”.

Pakar seperti Linzey dan Young menganuut vegetarianisme karena melihat bahwa Taman vegetarian Eden dan penampakan para nabi (seperti Yesaya bab 11) sebagai penampakan apa yang kita doakan dalam doa Bapa Kami (“Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di dalam surga”). Mereka juga mencatat, seluruh kepribadian Yesus adalah cinta kasih dan belas kasihan. Pada kotbahnya di atas bukit, dia menyatakan “Blassed are the merciful”. Sejarah hidupnya menunjukkan catatan tentang manusia yang berbelas kasih sepenuhnya. “Hendaknya kamu bermurah hati,” demikian dia memberitahukan kita, “sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

Dunia sekarang adalah tempat yang kejam. Sebagai umat Kristen, setiap dari kita bisa memilih menambahkan lagi kekerasan, penderitaan, dan kesakitan, atau menarik diri kita dari mendukung kekejaman dan penderitaan seperti ini.

KITA TAHU bahwa SEMUA BINATANG bisa merasakan kasih sayang, kesepian, ketakutan dan berbagai perasaan emosi lainnya. Tetapi yang lebih penting, KITA TAHU bahwa mereka BISA merasa sakit dan memiliki kemampuan untuk menderita.


Sekarang binatang yang dibesarkan untuk makanan menjalani hidup yang menyedihkan dan mengalami kematian berdarah yang kejam. Misalnya babi dikebiri tanpa diberi obat pemati rasa dan dipaksa hidup dalam kandang yang tidak lebih besar daripada badannya sendiri. Setelah 20 minggu mengalami penderitaan, mereka diangkut ke tempat lain dengan menggunakan truk tanpa makanan dan air. Kadang-kadang mereka mengalami kebekuan karena dinginnya sisi logam dalam truk di musim dingin. Di rumah jagal, mereka digantung terbalik dengan satu kaki danlehernya digorok padahal mereka masih sepenuhnya sadar.

Meski Linzey, Young, dan kebanyakan Kristen lainnya yang berfokus pada eskatologi manganut hak-hak asasi dan pembebasan binatang sebagai pusat dari iman mereka di dalam mambebaskan kaelamiahan Yesus maupun Tuhan, mereka juga menunjukkan bagaimana kekerasan, darah dan kekejaman di kondisi peternakan sekarang, tidak terjadi pada penangkapan ikan di Galilea. Umat Kristen seharusnya mengikuti belas kasih Kristus dengan bervegetarian.


“Sebagai umat Kristen, kita memiliki pilihan yang sangat mendasar setiap harinya, apakah kita akan turut ambil bagian dalam penyiksaan dan kematian binatang untuk makanan atau memilih untuk tidak melakukannya.”


Paling tidak, kita semua perlu menghentikan kebisaaan memakan binatang. Kita telah melakukan untuk-Nya salah satu perbuatan yang paling hina.

Mengutip Profesor Young,
“Jika Tuahan adalah Sang Pembebas dan Pencipta, maka Tuhan akan menginginkan semua makhluk hidup dibebaskan dari penindasan sebgaimana kaum Israel dibebaskan dari Mesir. Bagaimana mungkin Tuhan dari Keluaran akan pernah menyetujui penindasan terhadap mereka yang berbeda status sosial, gender, ras dan bahkan spesies?”

MENGAPA YESUS TIDAK LANGSUNG SAJA MENGUTUK MAKAN DAGING?


PERJANJIAN LAMA

Ada ‘hukum kosher’, sebagaimana hukum yang mengatur tentang perang dan perbudakan. Hukum kosher sedemikian ketat untuk menyulitkan konsumsi binatang. Tuhan yang pengasih, penyayang dan berbelas kasih tidak mengampuni manusia yang membunuh atau memperbudak satu sama lainnya dan juga tidak akan mengampuni eksploitasi binatang. Hukum khoser, perbudakan dan perang dimaksudkan untuk membuat perang, perbudakan dan daging menjadi berkurang kekejamannya daripada pembenarannya. Misalnya alkitab menunjukkan kepada kita untuk tidak memakan binatang ketika mereka masih hidup, yang dengan demikian melarang praktek yang umum sekarang, mengiris sepotong daging binatang hidup (misalnya punuk unta) ketika binatangnya masih hidup dan mengalami kesakitan yang luar biasa.

Perjanjian lama telah digunakan selama bertahun-tahun untuk membenarkan banyak tindakan yang kejam dan sadis (seperti pelecehan pasangan hidup dan kekerasan anak, perbudakan dan perang). Sungguh disesalkan jika mereka terus digunakan untuk membenarkan eksploitasi binatang. Untuk mempelajari lebih jauh tentang Perjanjian Lama dan vegetarianisme, silakan membaca esai Richard Schwartz pada Judaism dan vegetarianism.

PERJANJAN BARU

Yesus mengutuk korban sembahan dan Bait Allah, yang kedua-duaya berkaitan erat dengan makan daging pada masa kebudayaan Palestinanya di abad pertama, yang akan dipahami oleh pendengarnya sebagai oposisi terhadap makan daging. Untuk informasi lanjut mengenai hal ini, silahkan melihat pertanyaan sebelumnya tentang binatang kurban.

Namun demikian, di dalam keempat injil yang dimasukkan ke dalam Kanon kita, Yesus tampaknya tidak mengutuk perbudakan, tunduknya wanita dan anak-anak, dan banyak ketidakadilan lainnya. Dan akibatnya, ketidakadilan ini dan yang lainnya diprbenarkan oleh umat Kristen selama bertahun-tahun. Namun pesan utama Yesus, tentang belas kasihan dan cinta kasih, tidak akan bias bergandengan dengan apa yang kita semua ketahui berlangsung di industri peternakan dan rumah jagal, yang barangkali merupakan tempat paling kejam dan tidak berbelaskasihan di muka Bumi.

Terakhir, Yesus berbicara dalam bahasa Aram, bahasa dimana Injil ditulis adalah Yahudi, dan terjemahan paling awal adalah versi Yunani dari abad ke 14 yang telah disetujui dan diubah oleh pemakan daging – Kaisar Konstantin. Semua versi awal telah dihancurkan atas tuduhan heresy. Menurut beberapa pakar, Yesus benar mengutuk makan daging, tetapi di dalam Injil, bagian ini dibuang oleh proses penyuntingan yang dilakukan penulis yang memakan daging pada masa awal perkembangan gereja. The Essene Gospel of Peace merupakan salah satu contohnya.

Mengapa berfokus pada Kristen



Tiga agama yang hampir selalu disalahgunakan untuk menentang perjuangan bagi kesejahteraan binatang adalah agama monoteistik-Kristen, Judaisme dan Islam. Kita (PETA) memulainya dengan Kristen dan kami sedang membuat situs yang akan mengupas isu tentang Islam dan hak-hak asasi binatang. Kami merasa isu tentang Judaisme dan hak-hak binatang telah dikupas dengan baik sekali oleh organisasi seperti Jews for Animal Rights dan Jewish Vegetarian Society of North America.

Bukankah Tuhan Menghendaki Korban Binatang?


Tidak, Baik pada perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Alkitab menentang pembunuhan binatang, dari awal sampai akhir. Pada Perjanjian Lama, Tuhan adalah Kasih - dari Taman Eden yang damai sampai penglihatan akhir zaman oleh para nabi, dimana singa berbaring bersama domba. Pada Perjanjian Baru, seluruh panggilan misi Yesus adalah beroposisi terhadap korban sembahan merupakan inti dari vegetarianisme Yesus, karena binatang yang dikorbankan untuk persembahan akan berakhir sebagai makanan.

Perjanjian Lama
Tidak ada binatang sembahan di dunia Tuhan yang ideal, sebagaimana dilukiskan dalam Taman Eden dan gunung kudus Tuhan sebagaimana dalam penglihatan para nabi ( Yesaya 11). Malah kenyataannya, Taman Eden seluruhnya adalah vegetarian (Kejadian 1:29) dan Tuhan tidak pernah menyerukan korban sembahan (Yeremia 7:22).

Micah, Amos, Yesaya, Yeremia, dan Hosea, semuanya mengutuk korban sembahan. Hosea dan Yeremia menyatakan dengan jelas bahwa manusia yang menciptakan korban sembahan sebagai alasan untuk memakan daging: "Mereka mencintai korban sembelihan; mereka mempersembahkan daging dan memakannya tetapi Tuhan tidak berkenan kepada mereka. Sekarang Ia akan mengingat kesalahan mereka dan akan menghukum dosa mereka." (Hosea 8:13).

Perjanjian Lama telah digunakan untuk membenarkan banyak kekejian, dari perbudakan, pembakaran tulang sihir sampai kekerasan anak dan pelecehan terhadap pasangan hidup. Galileo dihukum oleh Paus dengan cara disiksa sampai dia menarik kembali pernyataan heresinya bahwa bumi mengelilingi matahari, yang bertentangan dengan Kitab Kejadian. Menurut kitab Imamat, tukang sihir dibakar dan pezinah, anak-anak yang tidak taat, dan orang -orang yang melanggar Sabat harus dilempari batu sampai mati. Penderita lepra dan orang cacat dianggap tidak bersih dan dilarang memasuki rumah suci. Salah satunya dikisahkan dalam Kitab Bilangan (15) orang dilempari batu sampai mati karena mengumpulkan kayu pada hari Sabat. Dia dibunuh oleh Musa dan orang-orang Israel karena demikian telah diperintahkan oleh Tuhan. Lot dianggap orang yang beriman, bahkan setelah memberikan anak-anak gadisnya kepada orang-orang di luar gerbang pada kisah dalam Kitab Kejadian (19).

Poinnya di sini adalah bukan Tuhan sadis dan kejam. Tuhan adalah kasih, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda-sabda-Nya kepada nabi. Kitab Kejadian lebih merupakan catatan sejarah daripada penjelasan tentang maksud Tuhan dengan perkecualian tentang Taman Eden (dunia ideal Tuhan, dimana kita semua dipanggil untuk memperjuangkannya) dan penglihatan para nabi (dimana Dia memberitahukan kita bahwa untuk mengenali-Nya adalah dengan bersikap adil, berbelas kasih dan rendah hati). Memakan daging merupakan bagian dari kejatuhan, seperti halnya melemparkan batu bagi perzinahan dan moralitas 'mata untuk mata', yang kedua-duanya dikehendaki oleh Tuhan menurut Perjanjian Lama yang dibaca secara sempit tetapi dicela oleh para nabi dan Yesus sebagai salah tafsir.

Perjanjian Baru
Yesus menentang penyelenggaraan korban sembahan, dari tindakan pertamanya (baptisme) sampai yang terakhir (penyaliban). Seluruh hidupnya diabadikan untuk mengkotbahkan belas kasihan dan cinta kasih dan dengan terang-terangan menentang Temple Cult, yang menggunakan korban sembahan. Empat poin berikut terutama relevan.

Pertama, pada masa Yesus, korban sembahan dianggap oleh banyak pihak sebagai satu-satunya metode pengampunan dosa. Orang-orang Yahudi vegetarian radikal melihat hukum abadi Tuhan, hukum Taman Eden dan para Nabi (seperti Hosea 2:18 , Yesaya 11:6-9), dan mendirikan baptisme sebagai pengampunan dosa. Dengan demikian, selama misinya, Yesus berkali-kali menyatakan, dengan mengutip sabda para nabi, bahwa pengikutnya harus belajar memahami tentang apa yang dia sampaikan melalui nabi Hosea, "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan." (Matius 9:13, 12:6-7). Disini Tuhan berbicara tentang korban sembahan.

Penekanan pada baptisme dalam injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dan Kisah Para Rasul tidak memiliki pengaruh yang sama terhadap kita sebagaimana pada abad pertama di Palestina, tetapi orang-orang pada masa Yesus memahami bahwa baptisme mewakili penolakan total terhadap kekejaman dan tumpahan darah yang terjadi pada pembunuhan binatang demi pengampunan dosa. Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Yesus untuk datang ke padang gurun, "Menyerukan baptisme pertobatan supaya dosa-dosa diampuni". Lukas menjelaskan bahwa "maksud Allah" adalah baptisme untuk pengampunan dosa, "orang-orang Farisi dan ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka karena tidak mau di baptis." Pernyataan ini merupakan penolakan yang sebulat-bulatnya terhadap persembahan korban (dan pola makan karnivora yang mengikutinya) yang tak perlu ditekankan kembali lagi.

Kedua, korban sembahan dilakukan di Bait Allah, dan inilah sebabnya mengapa orang-orang Yahudi yang bervegetarian pada masa Yesus bertentangan dengan Bait Allah. Yesus berbicara dengan konsisten untuk meruntuhkan Bait Allah. Yesus memasuki Bait Allah melempar keluar penukar uang dan pedagang binatang. Dia mengutip Yeremia 7, dimana orang-orang Palestina mengungkapkan sabda Tuhan bahwa dia tidak pernah menginginkan korban sembelihan dan menyatakan hubungan langsung antara korban sembahan dan makan daging. Yohanes Sang Rasul meletakkan poin ini sebagai aksi pertama misi Yesus dan meletakkannya lagi tepat sebelum sabat ("Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Ke gedung pengadilan?"). Jadi Yesus masuk ke Bait Allah dan melarang orang melakukan sembahan korban sebagai makanan Sabat. Poin penting disini adalah orang-orang ini tidak hanya menjual binatang dan tidak hanya untuk persembahan. Mereka juga memakan daging binatang yang telah disembahkan.

Ketiga, Yahudi vegetarian, sebagai satu aspek penting iman mereka, meryakan Paskah yang sepenuhnya vegetarian. Yohanes meletakkan mukzizat perbanyakan yang pertama pada Paskah, tetapi murid-murid yang lain bertanya kepada Yesus hanya, "Dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" tak hanya tidak memikirkan tentang anak domba, yang akan dimakan oleh mereka yang tidak vegetarian sebagai oposisi terhadap korban sembahan. Perjamuan terakhir adalah perayaan Paskah dan juga, tampaknya, vegetarian. Menurut Yohanes, Yesus melemparkan korban sembahan untuk Paskah keluar dari Bait Allah, menunjukkan penolakan yang jelas terhadap pandangan bahwa Paskah memerlukan kematian seekor anak domba.

Keempat, dan terakhir, kematian Yesus di kayu Salib, bagi umat Kristen, adalah pengorbanan terakhir dan pengikut Yesus merayakan kemenangan akan-Nya dengan makanan vegetarian, roti dan anggur.

Korban sembahan tidak pernah menjadi bagian dalam rencana Tuhan, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Kejadian 1. Korban sembahan dikutuk oleh Tuhan melalui para nabi dan oleh Yesus pada seluruh karya hidupnya. Penentangan Yesus terhadap korban sembelihan merupakan bukti nyata pola makan vegetariannya.

Tuhan memberi manusia kuasa mendominasi binatang?


Menurut kitab Kejadian, Tuhan menciptakan semua binatang, termasuk umat manusia, pada hari keenam. Pada Kejadian 1:28, Tuhan menyatakan, " Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Segera setelahnya, pada Kejadian 1:29, Tuhan berfirman, "Lihatlah, aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah yang akan jadi makananmu." Apapun istilah yang diterjemahkan sebagai 'mendominasi' berarti, istilah ini tidak merujuk kepada hak untuk memakan binatang. Kenyataannya, kebanyakan ahli Theologi mengakui bahwa istilah ini lebih akurat jika diterjemahkan sebagai penjaga/ pengayom dan makna teks ini adalah manusia memiliki tugas sebagai pengurus dan penjaga, melindungi dan menghormati makhluk hidup dimana kita membagi anugerah penciptaan ini.

Ahli teologi Pdt. Andrew Linzey menyatakan, "Kita memerlukan sebuah konsep tentang diri kita di alam semesta ini tidak sebagai spesies master tetapi sebagai spesies pelayan-sebagai spesies yang telah diberi tanggung jawab atas keseluruhan ini demi kebaikan keseluruhan ini. Kita perlu meninggalkan ide bahwa binatang diberikan kepada kita dan dibuat untuk kita kepada pandangan bahwa kitalah yang telah diciptakan bagi penciptaan, melayani dan menjamin kelangsungannya. Sesungguhnya ini lebih kurang merupakan teologi Kitab Kejadian Bab Dua. Taman telah diciptakan khusus untuk memeliharanya."

Kejadian 9, teks yang sering digunakan sebagai pembenaran untuk memakan binatang, diakui oleh kebanyakan ahli Theologi sebagai baik konsensi yang sangat sementara untuk pasca-banjir (dimana semua tumbuhan musnah) atau sebagai konsensi atas dosa manusia (Kejadian 9 juga digunakan untuk membenarkan perbudakan).

Santo Jarome menulis, "Untuk argumen bahwa pada berkah Tuhan yang kedua (Kejadian 9:3), izin diberikan untuk memakan daging - izin yang tidak diberikan sebelumnya pada berkah yang pertama (Kejadian 1:29) - maka biarlah mereka berargumen ini tahu bahwa izin untuk menceraikan istri, menurut sabda Juru Selamat, tidak diberikan sejak semula, melainkan diizinkan kepada umat manusia oleh Musa karena ketegaran hati kita (Matius 19), demikian pula kebiasaan memakan daging tidak ada sampai datangnya air bah..."

Bukankah Yesus makan ikan setelah kebagkitan?


Bukankah Yesus makan ikan setelah lebangkitan dan memberi makan orang banyak dengan ikan pada peristiwa mukjizat kebanyakan?

Satu-satunya bagian dalam alkitab yang menggambarkan Yesus makan atau memberi makan daging apa saja termasuk ikan: setelah kebangkitan. Yesus dilukiskan makan daging bersama murid-muridnya, semasa hidupnya dia digambarkan memperbanyak roti dan ikan untuk memberi makan kepada orang-orang yang berkumpul untuk mendengarkan khotbahnya. Jika cerita ini dilihat kembali dalam kacamata semua bukti yang menunjukkan bahwa Yesus vegetarian, yang mengasihi dan berbelas kasihan kepada binatang dengan sangat perhatian, perlu bagi kita untuk mengingat bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram, sedangkan Aklitab ditulis beberapa generasi sejak peristiwa kebangkitan dalam bahasa Yahudi, dan versi paling awal yang kita miliki adalah terjemahan dalam dalam bahasa Yunani dari abad ke 4 - lebih dari 300 tahun, 2 terjemahan, dan banyak lagi transkripsi setelah kebangkitan.

Seberapa jauh kebenarannya kisah perbanyakan ikan dalam hidup Yesus?

Bukti-bukti menunjukkan bahwa kisah setelah kebangkitan merupakan tambahan yang dimasukkan belakangan ke dalam Alkitab, dan pada tulisan awalnya, peristiwa mukjizat perbanyakan (roti dan ikan) tidak termasuk ikan menurut versi aslinya.

Konsumsi ikan setelah kebangkitan

Para pakar setuju bahwa kisah setelak kebangkitan tentang Yesus yang makan ikan ditambahkan ke dalam Alkitab lama setelah Alkitab ditulis, dengan tujuan menyelesaikan berbagai skisma yang terjadi pada perkembangan awal Geraja (misalnya Marcionites dan kelompok Kristen pada awal perkembangan Gereja percaya bahwa Yesus sebenarnya tidak bangkit dalam tubuh. Apalagi cara yang lebih baik untuk membuktikan kebangkitan tubuh daripada menunjukkan dia makan?). Ahli yang menambahkan bagian ini tampaknya tidak menentang makan daging ikan. tetapi hanya bagian ini saja di dalam Alkitab yang menunjukkan Yesus makan daging binatang, tampaknya jelas Yesus sebenarnya tidak makan daging.

Roti dan Ikan

Walaupun tidak bertentangan dengan devinisi teknis vegetarian dengan memperbanyak ikan yang sudah mati untuk memberi m akan kepada orang yang tidak menentang makan ikan, namun ada beberapa hal yang cukup menarik untuk diperhatikan dalam kisah ini.

Pertama, murid-muridnya bertanya kepada Yesus tentang dimana mereka bisa memperoleh cukup banyak roti untuk diberikan kepada orang banyak, tapi sama sekali tidak berpikir untuk membeli ikan atau produk binatang lainnya, dan tidak pernah menganjurkan penangkapan ikan, padahal mereka di tepi laut. Juga bukti menunjukkan bahwa kisah roti dan ikan pada mulanya tudak mencakup ikan. Sebagai contoh, pada cerita awalnya (sebelum masa alkitab), kemukjizatan ini tidak termasuk ikan. Sebagai contoh, pada cerita awalnya (sebelum masa alkitab) ketika Yesus memberi petunjuk, dia hanya menunjuk kepada roti (lihat Matius 16:9-10, Markus 8:19-20, Yohanes 6:26)

Ikan ditambahkan pada kisah ina oleh penulis Yunani, barang kali karena istilah ikan dari bahasa Yunani adalah IXOUS, yaitu akronim dari fase Jesus Christ Son of God Savior. Ikan merupakan simbol Kristen pada masa sekarang. Dalam hal interpretasi yang sangat mungkin terjadi ini, peristiwa kebanyakan mewakili ramalan akan berkembangnya Gereja dan tidak ada hubungannya dengan memakan binatang.

Ada pula beberapa pakar yang berpendapat bahwa istilah Yunani untuk fishweed (semacam rumput laut kering) telah salah diterjemahkan dalam kisah ini sebagai 'ikan'. Tentu saja lebih benar jika rumput kering yaitu fishweed yang berada dalam satu keranjang dengan roti, dan fishweed merupakan makanan favorit para petani di kalangan Yahudi dan Arab seperti halnya orang-orang pada masa dimana Yesus mengadakan mukjizat.

Jawab-Bukankah ada bagian di alkitab yang tidak sejalan dengan Vegetarian?


Ada pepatah yang mengatakan, "Alkitab bisa digunakan untuk membenarkan apa saja." Dalam beberapa hal, pernyataan seperti itu cukup fair. Kita bisa menemulan banyak pesan yang tidak sejalan ketika tidak membaca alkitab. Di sinilah kemudian teologi masuk - untuk membuat teks suci bisa dipahami dengan berusaha mengungkapkan makna sejati wahyu dan eksistensi.

Kebanyakan ahli teologi melihat interpretasi Alkitab sebagai produk "pewahyuan progresif", yaitu pemahaman kita berkembang seiring dengan waktu, sebagaiman halnya pemahaman kita terhadap ilmu pengetahaun atau linguistik/ bahkan komputer yang semakin lama semakin bertambah baik. Tidak ada kebenaran yang tidak berubah, valid bagi semua keabadian. Misalnya, 200 tahun yang lalu, memiliki budak oleh umat Kristen dianggap sah saja; 300 tahun yang lalu, Galileo di hukum di balik penyiksaan karena keyakinannya bahwa Bumi bukan pusat semesta; 500 tahun yangn lalu, Marthin Luther menyatakan bahwa "Rumah dan Sinagog orang Yahudi harus dibakar" dan menyerukan hukuman mati bagi orang Yahudi yang ingin melaksanakan ibadahnya/ mengajar di tempat umum. Sekarang, disamping teks-teks Alkitab yang membenarkan perbuatan demikian dankekejaman lainnya, kita tahu bahwa kealamiahan Tuhan menghendaki penghindaran perbudakan, penyiksaan, dan anti-Semitisme.

Studi dan penemuan baru, sebagaimana juga perkembangan ide, etika, dan tujuan yang sama, mengatur bagaimana kita melihat wahyu Alkitab. Tuhan, di dalam perjanjian lama, menuntut kematian semua jenis "dosa", dari zinah sampai sihir sampai mengutuk orang tua sendiri. Sebuah kisah di dalam Kitab Bilangan menceritakan kepada kita tentang seorang manusia yang mengumpulkan kayu pada hari Sabat dihukum dengan lemparan batu sampai mati di hadapan Musa "seperti yang di firmankan Tuhan."

Kebanyakan nabi memiliki budak dan banyak Istri. Samuel, berbicara atas nama Tuhan, memerintahkan Saul untuk "bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai" (1 Samuel 15). Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa interprestasi apa saja atas Alkitab yang bertentangan dengan akal sehat atas kebaiakn Tuhan dan belas kasihan-Nya adalah tidak benar.

Jadi, memeng ada bagian dalam Alkitab yang membenarkan memakan dan mengeksploitasi binatang. Tetapi ada lebih bayak lagi bagian yang membenarkan pembunuhan mereka yang tidak berdosa dalam perang, pengambilan budak, pembakaran tukang sihir, anti-Semitisme, dan berbagai perbuatan yang jelas-jelas tidak berbelas kasih, tindakan kekerasan dan tidak bermoral. Kabar baiknya adalah jauh lebih banyak argumen dari Alkitab yang mengguatkan tentang perlakuan terhadap semua binatang, manusia atau bukan, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang perlu mendapatkan hormat dan sayang, perlu dikasihi, bukannya dieksploitasi, disiksa, atau dibunuh.

Tuhan para Nabi dan Taman Eden yang tidak berkekerasan, tidak akan menyetujui penyiksaan binatang. "Raja Damai" sebagaimana diramalkan dalam Yesaya, menurut tradisi Kristen adalah Yesus Kristus. Bagaimana kita akan membayangkan Sang Raja Pembawa damai akan memakan binatang, mengingat rencana semula Tuhan untuk Taman Eden dan penglihatan Yesaya akan "akhir zaman" - ketika singa berbaring bersama-sama anak domba, dan kekerasan dan pertumpahan darah akan tiada lagi.

Jika Yesus Vegetarian, Mengapa tidak ada bagian yang menunjukkan, 'Tidak Boleh Makan Daging'



Alkitab ditulis dengan tujuan spesifik, untuk komunitas spesifik, pada periode waktu yang spesifik, Perjanjian Baru merupakan produk diskusi intelektual dan spiritual serta perbedaan pendapat selama 3 abad pada masa awal perkembangan Kristen.

Kitab-kitabnya telah ditulis lagi dan lagi, selama tiga abad sering terjadi kehilangan makna aslinya dan terjadi pengambilan makna baru. Begitu pula teks-teks yang akhirnya dipilih sebagai Kanon (27 buku yang sekarang kita kenal sebagai 'Perjanjian Baru') dipilih pada abad ke-4, dan terdapat banyak variasi teks tertulis pada masa itu (dan sebelumnya) yang tidak dimasukkan ke dalam Kanon.

Pdt Ernie Bringas menjelaskan dalam GOING BY THE BOOK, "Kita tidak memiliki, atau kita pernah memiliki, tulisan tersebut (tulisan asli yang menyusun Alkitab sekarang). Mereka telah hilang atau dimusnahkan sejak awal. Apa yang sekarang kita miliki adalah kopi dari buku-buku tersebut, yang kebanyakan tidak lengkap dan telah beberapa kali dibuang dari teks aslinya..." (halaman 173).

Meski benar bahwa kita tidak memiliki perintah tegas tentang "Tidak boleh makan daging", tetapi sabda Yesus yang terkenal, "BLESSED ARE THE MERCIFUL, FUL THEY SHALL BE SHOWN MERCY" sudah jelas mendukung makanan vegetarian dan bahkan menuntut perlunya vegatarianisme apabila mengingat apa yang kita ketahui tentang rumah jagal dan pabrik peternakan. Siapa yang membayangkan bahwa Yesus bekerja di rumah jagal? Tentu saja tidak ada.

Di taman Eden, dunia Tuhan yang sempurna, merupakan dunia vegetarian (Kej 1 : 29-30). Segera setelahnya Tuhan berfirman bahwa hubungan ideal dan non-eksploitatif ini "baik" (Kej 1 : 31). Pernyataan seperti ini hanya difirmankan satu kali oleh Tuhan. Hanya bertahun-tahun kemudian setelah jatuhnya manusia, orang-orang sudah memperbudak sesamanya, berperang, memakan binatang dan melakukan berbagai tindakan kekerasan lainnya. Walaupun ada bagian di dalam Alkitab yang mengabsahkan memakan binatang, perang, perbudakan, poligami, korban sembelihan dan praktek lainnya yang bagi banyak orang adalah perbuatan tidak bermoral, namun bagian ini merupakan representasi dari apa yang berlangsung sebagai jatuhnya umat manusia, dan bukan rencana ideal Tuhan/ penglihatan.

Di samping kejatuhan manusia, para nabi memberitahukan kepada kita untuk mengharapkan datangnya era baru, kembalinya Taman Eden, kerajaan Tuhan yang damai, bahkan tempat dimana singa akan berbaring bersama-sama dengan domba dan tidak ada pertumpahan darah / kekerasan sama sekali, "Sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan." (Yesaya 11).

Jika Yesus adalah 'Adam yang Baru", yang mengembalikan kita ke Taman Eden, sebagaimana diimani oleh umat Kristen, dan jika dia adalah "Raja Damai" seperti yang dilukiskan oleh Yesaya 11, yang akan membawa dunia pada terwujudnya penampakan yang baru (dan vegetarian), sebagaimana juga diimani oleh umat Kristen, maka tentu tudak terbayangkan oleh kita tentang Yesus yang makan dengan menu bangkai binatang.

Pada masa Yesus adalah vegetarian. Pada masa Yesus banyak orang Yahudi bervegetarian atas dasar iman mereka, sebagaimana alasan yang sama dianut oleh banyak orang-orang Yahudi sampai sekarang (kunjungi www.JewishVeg.com untuk mengetahui lebihlanjut tentang Judaisme dan vegetarianisme). Mereka memahami bahwa dunia yang ideal di mata Tuhan adalah Taman vegetarian Eden seperti dilukiskan dalam Kejadian dan Kerajaan yang dapat damai sebagaimana dikisahkan oleh para nabi.

Tiga isu yang membedakan sekte-sekte agama Yahudi yang menganjurkan kehidupan vegetarian sebagai ideal bagi bumi adalah:
1) baptisme, sebagai pengganti korban sembelihan, untuk pengampunan dosa;
2) oposisi terhadap perdagangan binatang untuk penyembelihan di tempat ibadah;
3) perayaan Paskah dengan roti tak beragi, dan bukannya anak domba.

Pada masa Yesus, mengkotbahkan baptisme untuk pengampunan dosa sebagai pengganti binatang sembelihan menunjukkan dengan jelas sekte-sekte vegetarian Judaisme yang berusaha mewujudkan era baru sebagaimana dinyatakan pada Yesaya 11. Bukan hal yang tidak jelas bagi orang2 Palestina pada abad pertama bahwa Yohanes, yang datang untuk "mempersiapkan jalan untuk Tuhan", membaptis orang dan bukan mengajarkan persembahan korban binatang. Pada Yesaya 11, jelas dinyatakan keinginan Tuhan akan belas kasih, dimana tiba masanya ketika singa pun berbaring bersama-sama dengan domba, dan tidak terjadi pertumbahan darah sama sekali.

Sebagai contoh, Lukas menjelaskan bahwa 'maksud Allah' adalah Baptisme bagi pengampunan dosa, sedangkan 'orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka karena tidak mau dibaptis." Dengan demikian Yohanes mengkotbahkan baptisme untuk pengampunan dosa, Yesus dibaptis, dan ke-4 injil dan Kisah Para Rasul dengan jelas dan konsisten menyerukan baptisme. Bagi orang Yahudi yang tidak bervegetarian, korban persembahan merupakan jalan kepada pengampunan (dan tentu saja, setelah persembahan korban, binatang itu mereka makan), tetapi bagi Yahudi vegetarian, baptismi dianjurkan.

Tambahan pada fokus baru baptisme adalahoposisi terhadap bait Allah, dimana binatang dikorbankan, dan perayaan Paskah tanpa anak domba (disembelih sebagai korban bait Allah).

Yesus mengobrak-abrik bait Allah, dan satu tindakan konfrontasi langsungnya dengan otoritas adalah di bait Allah, rumah jagal pada abad pertama di Palestina, ketika dia dengan langsung melempar keluar semua pedagang yang menjual binatang untuk korban persembahan.

Kita bisa berdebat tentang alasannya, tapi evek praktisnya adalah seorang Yahudi yang mencegah orang Yahudi lainnya dari melakukan penjagalan yang mereka kira dianjurkan oleh Tuhan pada perayaan Paskah. Jelas Yesus menolak pandanga ini. Dia menyatakan 2x bahwa mereka semua perlu mempelajari makna kata-kata Hosea ketika ia menyatakan, berbicara atas nama Tuhan, "Yang Ku kehendaki adalah belas kasihan dan bukan persembahan." Dan kenyataannya, tidak ada bagian Alkitab yang menunjukkan Yesus memakan anak domba, yang tentu saja dia pasti akan memakannya pada saat Paskah jika dia bukan vegetarian.

Kita melihat Yesus makan Paskah 2x, dan tidak ada satupun dari ke 2 peristiwa tersebut melibatkan anak domba. Kelompok non vegetarian memakan anak domba pada perayaan Paskah, tetapi vegetarian hanya memakan roti tak beragi, seperti yang kita lihat, dilakukan oleh Yesus.

Satu poin terakhir untuk diperhatikan adalah banyak umat Kristen pada abad ke 3, termasuk semua "Bapa Gurun", yang bervegetarian dan mereka terus, disamping sebagai orang Yahudi, merayakan Paskah dengan roti dan Anggur, dan bukan daging anak domba. Apakah akan tampak aneh benar jika umat-umat Kristen yang pertama mengadopsi makanan yang dilakukan oleh Yesus.

Mayoritas kita setuju bahwa kecelakaan (menabrak mati) kucing atau anjing adalah perbuatan yang tidak etis bahkan tidak Kristiani. Jadi kedua-duanya masuk akal dan sesuai ajaran alkitab apabila mencelakakan makhluk hidup apa saja, termasuk sapi, ayam, babi, dan ikan sebagai perbuatan yang sama tidak bermoralnya. Tidak ada pabrik peternakan dan rumah jagal di surga, dan umat Kristen yang semua doanya adalah bagi kehendak Tuhan "di Bumi seperti di Surga," seharusnya berusaha hidup sedekat mungkin dengan visi tersebut sekarang.

Ada begitu banyak kekerasan di dunia sekarang, dan penyelesaian umumnya kompleks dan isunya terus diperdebatkan. namun dalam hal ini, isunya sederhana saja: Apakah saya endukung kekejaman terhadap binatang, menyebabkan penderitaan yang tidak perlu terjadi, kekejaman dan kematian? Atau saya tidak akan menjadi pendukungnya?

Jangan melakukan kesalahan dalam hal ini, di pabrik peternakan, binatang dibuang tanduknya, dipotong paruhnya dan dikebiri tanpa pembiusan. Demi perolehan laba yang sebesar-besarnya, binatang ternak dijejalkan sebanyak mungkin dalam ruang yang sekecil-kecilnya dan ternak dikembangkan melalui manipulasi genetika sehingga banyak diantaranya yang menderita kelumpuhan, kelainan kaki, atau patah tulang karena kaki mereka tidak bisa menyokong tubuh mereka yang telah dipermak untuk memberikan hasil yang semaksimalnya. Akhirnya mereka akan diangkut truk tanpa makanan atau air, melalui segala kondisi cuaca yang ekstrim, menuju kepada kematian yang menakutkan dan mengerikan.

Apakah Yesus mencintai binatang, sebagaimana disabdakan Yesus? Apakah Tuhan peduli kepada burung pipit yang rendah? Apakah perjanjian Tuhan berlaku untuk semua binatang di darat, dan burung-burung di udara, dan ikan di laut sebagaimana kitab Kejadian memberitahukannya kepada kita? Jika ya, apa artinya bahwa kita memperlakukan binatang sedemikian kejam dan dengan demikian sedikitnya perhatian terhadap kenyataan bahwa mereka, juga dikasihi oleh Tuhan.

Untuk informasi selanjutnya mengenai perlakuan terhadap binatang di pabrik peternakan, silakan mengunjungi situs vegetarian PETA (www.peta-online.org). Memakan binatang, mengkonsumsi air susu dan produknya, atau telur, tidak akan pernah bisa selaras dengan kehidupan Kristiani, terlepas dari apakah makanan tokoh historis Yesus, yang kemungkinan besarnya adalah vegetarian.

Ya Tuhan, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kau selamatkan, ya Tuhan (Mazmur 36 : 6-7)

Pendahuluan


Sebelom gue di amuk masa n dituduh yang enggak-enggak, gue bilang dari awal ni.... tulisan2 yang bakal gue masukkin dalam list 'Yesus Vegetarian?" adalah hasil copy paste (yang melelahkan-karena itu artinya mengetik ulang) dari buku dengan judul yang sama yang diterbitkan oleh PETA. Tujuan dari tiap artikel yang gue tulis juga pada desarnya cuma satu, Gue pengen menyampaikan info apapun yang berhubungan dengan vegetarian. Penasaran ga sich sama pendapat2 dari agama-agama tentang vegetarian? Gue mah penasaran....

So, yang sama penasarannya ama gue, mari kita lanjut, yang ga mo tau - Yo Weis...